Aku Sakiti, Aku Sayangi !

Trimakasih atas komentar & perhatiannya !

Archive for the ‘Breaking News !!!’


**POLRES** yg tak bisa membrangus PREMAN…. MUNDUR… !

 

**POLRES** yg tak bisa membrangus PREMAN….
MUNDUR… !

 

Banten - Aksi pembakaran PLTU III di Mauk, Tangerag, Banten, diduga dipicu ‘balas dendam’ operasi preman. 7 Pelaku mengamuk dan membakar lokasi meminta 7 rekannya yang ditangkap dibebaskan. selanjutnya baca >>>

Jakarta - Pembakaran terhadap mess pekerja PLTU disinyalir dilakukan oleh sekelompok preman yang jumlahnya ratusan. PLN sangat menyayangkan insiden tersebut. selanjutnya baca >>>

Sumber : detik..com.

Begitulah ciri khas mereka…. merusak, mengeroyok, dll. dengan melibatkan banyak orang. Tentu saja… pemicunya pr cecenguk bukan dedengkotnya. Sebab dedengkot biasanya hanya mengamini atau pura-2 ikut mengamkan dan lain-2. Begitulah cara kerja mereka. dan selalu cecenguknya merasa… HEBAT !

Untuk itu Polres / polri harus jeli… Para cecenguk yg melawan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya scr ditindak tegas tanpa keringanan lain. Sbb biasanya, dedengkotnya berusaha…. meminta keringanan dll. Kalo tidak mrk akan muncul kembali ketika situasi sudah dianggap memungkinkan. Dan teror yg lebih kuat akan mereka lakukan, kususnya mereka yg melapor dll.

Keringanan dan sejenisnya…. adl kemenangan para preman utk bisa dibrangus atau dihabisi. Maka polisi harus jeli…. terhadap sgl kelicikan yg sangat mungkin mereka lakukan utk lolos dr segala tindakan.

Apapun alasan mereka harus dihabisi ruang geraknya…. !
Merekalah penyebab… banyak produktifitas mjd… tdk bergairah, mlempem… ato malah mandek.
Merekalah juga sumber…. kemiskinan & ketakutan masyarakat… !

Utk itu, jika pihak Polres ato polda… tidak mampu bertindak tegas… thd mereka !
Tidak mampu membrangus mereka !
Menghabisi ruang gerak mereka…. !
Maka…, Kapolres atau kalu perlu Kapoldanya sekalian… harus mundur… atau diganti saja… !

Sbb, disamping dianggap tdk pecus… ! Bisa jd masyarakat merasa jengah, curiga & tidak percaya dgn omongan & tekad polisi sendiri… !

Warning… !
Kalau kasus Aksi pembakaran PLTU III di Mauk tidak segera dituntaskan… maka… ini bisa menjadi inspirasi para PREMAN di pelosok daerah… utk meniru !
Sbb, begitulah para cecnguk yg sama sekali tak berfaedah !
Hanya pecundang belaka… !
Pasti hny sekelompok pengecut… yg sllu mengandalkan kroyokan ato massa !

Bagaimana… pak Kapolres…. ?
Mundur… atau bertindak ?
Atau malah menunggu diganti…. ???

Baca tulisan yg terkait :

= CARA JITU menghabisi **PREMANISME**…. !
= **Premanisme** mmg perlu dibrantas… !

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

**PREMAN** MENGAMUK HARUS DISIKAT… !

Banten - Aksi pembakaran PLTU III di Mauk, Tangerag, Banten, diduga dipicu ‘balas dendam’ operasi preman. 7 Pelaku mengamuk dan membakar lokasi meminta 7 rekannya yang ditangkap dibebaskan. selanjutnya baca >>>Jakarta - Pembakaran terhadap mess pekerja PLTU disinyalir dilakukan oleh sekelompok preman yang jumlahnya ratusan. PLN sangat menyayangkan insiden tersebut. selanjutnya baca >>>

Inilah Aksi-2… kepencundangan mereka… !
Keroyokan…., menggerakkan massa…, dan segala bentuk teror ala kelompok pengecut yg selalu digunakannya… !

Gue jamin mereka takkan pernah…. Satria dan gentel… !
Selalu saja beraninya kalau… dipastikan aman… !
Dengan orang lemah…, atau sudah tahu orang yg takkan merugikan dirinya kalo di teror.., diperas…, diperdayai dll.
Mereka sangat tahu… ttg apa yg akan dilakukan dan apa tindakan penyelamatannya… !

Lihat aja pr preman yg harus kena kasus… dan harus masuk penjara…
Wajahnya… pasti hny penuh penyesalan… bahkan tak sedikit menangis… mohon diampuni dll…. !
Begitulah tanda…. para pecundang & pengecut itu !

Ini sangat berbeda… dgn pr teroris…. yg malah bangga atau melawan jika harus dimintai pertanggungjawabannya… !

Dasar pecundang & pengecut… !

Habisi mereka Pak Kapolres… !
Atau kalau tidak… mundur saja… !
Atau menunggu diganti saja…. ?

Bagaimana… Pak kapolres… ?

 

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

 

Originally Posted by THEJACK THEORY View Postyups emang masalah utama adanya preman menurut saia
berawal dari perekonomian
lapangan kerja yang sulit
menurut saia setelah ditangkap dan dibebaskan
mereka akan kembali menjadi preman
toh sulit nyari keja dan sempitnya peluang usahagitu gan
ada yang laiN>>>okey deh

Saya sangat bisa memahami… pendapat… juragan yg nanggapi… si …

Originally Posted by Uthe18 View Postbuset, ramean comentnya dibanding beritanya
gimana preman mo diberantas klau mereka gk punya kerjaan, klau mo berantas tanpa prlu pusing2 mikirin penyaluran bagi preman insyaf ya aktifkan kembali aja tuh Petrus jilid II

Tapi… gini… Bos…
Gua sangat kenal mereka….
Justru merekalah… yg lebih membuat banyak kemiskinan.. dlll.

Mereka itu mo kerja cari enaknya…. spt. malak, meras dll….
Nah… kondisi ini… juga yg membuat… penduduk sekitar jd males-2an… karena ulahnya…

La mo gimana… lagi… ? klo da penduduk ato tetangganya sukses jd lengganan mereka utk memeras… baik halus mopun kasar… !
Wah… justru merekalah sumber…. kemiskinan…. !
Sbb, seperti tak da pilihan lain jika masyarakat sekitar juga… menjadi terkondisi… mo kerja… yg enak-2 juga… !
Lah… klo begitu… bgmn mo maju kalo mentalnya kayak gitu… ?

Maaf bukan maksud nyombong….
Gue… dibesarkan dilingkungan spt mereka….
Wah… sulit diajak maju….
Tawuran, keonaran…, & sgl bentuk keonaran mrklah pemicunya….
Belum pencipta teror bagi banyak warga…..
jd… gua sangat tahu betul… la… mrk bekas temen-2 gua…

Tapi stlh mrk diperlemah ruang geraknya….
Maka masyarakatpun menjadi cepet maju….

Jadi… Merekalah sumber kemiskinan itu….. !
Percayalah… !

Salam.

Masidan.

**Premanisme** mmg perlu dibrantas… !


**Premanisme** mmg perlu dibrantas… !

Segala bentuk kekerasan mmg bersumber di satu komunitas ini…. Tawuran, Keonaran, keresahan, kekeringan hidup…, bahkan sampai Terorisme di picu oleh orang-2 yg sama sekali tak ada faedahnya di masyarakat.

Berikut cuplikan-2 yg terkait dgn komunitas ini… :

1. PEMABUK = PENGECUT

Pada dasarnya seorang pemabuk itu, tak lebih dan tak kurang hanyalah seorang pengecut sejati. Seorang pengecut yang selalu menggunakan ‘media’ (alat) untuk selalu memastikan diri dapat lolos dari apa yang harus dipertanggungjawabkan atas perbuatannya. Atau seorang pengecut yang selalu menyembunyikan diri dari apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Menyembunyikan diri dari rasa takut, lari dari tanggungjawab dan mencari keselamatan pada dirinya sendiri. Kebanyakan dari mereka memang mampu melakukan perbuatan-perbuatan yang merugikan orang lain, namun selalu menghindar untuk mendapatkan hal yang sama kepada dirinya, seperti yang selayaknya kerugian yang didapat dari orang lain.

Oleh karena itu pemabuk dan pembuat onar dapat dipastikan hanyalah seorang pengecut. Sebab seorang yang benar-benar kesatria tidaklah akan repot-repot menggunakan ‘media’ (misalnya minum minuman keras atau bikin keonaran sebagai alatnya) untuk menunjukkan keberaniannya. Semua apa adanya tanpa media dan alat apapun ! Jiwa pengecut dapat dibuktikan dengan ‘kontrasnya’ prilaku diantara saat penggunaan media (minum minuman keras hingga tampak mabuk) dengan ketika sama sekali tidak menggunakannya. Di mana saat tidak kelihatan mabuk, ia sama sekali tidak mampu menunujukkan keberanian, kebringasan dan kejantanannya. Persis seperti pengecut sejati yang menggunakan media atau alat hanya untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.

Maka dari itu, adanya pandangan bahwa seorang pemabuk yang melakukan keonaran dikarenakan dalam keadaan tidak sadar adalah tidak pada tempatnya dan cenderung merupakan kebohongan besar. Suatu kebohongan besar yang sengaja ditiupkan oleh para pengecut untuk melegalkan tindakan-tindakan semau mereka. Keadaan inilah yang justru tidak pada tempatnya, yang hanya menjadi ‘konsep pembenar’ atas ketidaksadaran seorang pemabuk. Dan keadaan ini justru membuat aksi-aksi mereka semakin menjadi-jadi. Konsep pembenar yang salah, telah terjadi pada pemahaman masyarakat kita menghadapi persoalan ini.

Padahal yang terjadi adalah adanya kesadaran dari ‘niat awal’ untuk melakukan suatu perbuatan. Seorang pemabuk masih mampu membedakan mana kawan dan mana lawan, siapa yang harus dihadapi dan siapa yang harus dihindari, mana sasaran yang takut dan mana sasaran yang berani meladeni. Mereka juga masih mampu membedakan mana yang akan dijadikan korban dan mana yang bukan, mana makanan yang bisa dimakan dan mana yang bukan. Kita tidak pernah mendengar adanya seorang pemabuk yang makan tahi ayam, karena ketidaksadarannya seperti yang dibilang banyak orang, mereka tahu bahwa tai ayam tidaklah enak untuk dimakan. Sebuah bukti adanya KESADARAN !

Yang sebenarnya terjadi pada pemabuk adalah lemahnya kontrol ‘bawah sadarnya’, namun masih dapat membedakan mana yang akan dilakukan dan mana yang tidak. Inilah taktik yang sering digunakan para pengecut dan pembuat onar. Meraka umumnya sudah punya niat untuk itu, sebagai pelancar aksinya. Mereka tahu takaran yang harus diminumnya, sehingga dengan demikian mereka yakin akan mempunyai keberanian untuk melakukannya, seperti apa yang telah diniatkan semula, memperlancar aksinya ! inilah yang dapat dipastikan banyak terjadi pada komunitas pemabuk, yang memang sudah punya niat bikin keonaran. Dan bukan pemabuk berat yang sudah tak bisa berbuat apa-apa dan justru tidak mampu melakukan sesuatu, malah tak jarang malah melucu. Pemabuk berat biasanya malah tidak membahayakan, disamping tidak jarang berprilaku menggelikan, berjalan saja sudah kewalahan, dan akhirnya tergeletak tak berdaya. Ada perbedaan antara seorang pengecut yang menggunakan media minum-minuman keras untuk melakukan dan memperlancar aksinya dengan pemabuk berat yang memang hanya berniat membuat dirinya mabuk untuk kesenangan diri sendiri.

Untuk lebih mudahnya dapat ditarik kesimpulan bahwa sesungguhnya pemabuk yang suka membuat keonaran adalah nyata-nyata seorang pengecut, yang menyembunyikan kenyataan dirinya sebagai seorang penakut. Oleh karena itu, jangan heran kalau mereka mampu melakukan pengrusakan, pemalakan, penganiayaan dan keonaran lainnya. Sudah ada niat untuk itu pada awalnya. Mereka sudah mempunyai strategi dan taktik licik, namun jika kemudian keadaan membahayakannya, cepat-cepat melarikan diri, bersembunyi dan lain sebagainya, sebagai simbol dari sifat kepengecutannya. Mereka juga tahu takaran tertentu untuk diminumnya, sehingga membuat ia mampu melakukan aksinya.

Keonaran demi keonaran akan terus dilakukan jika tidak ada yang menghamnbatnya. Dan tidak menutup kemungkinan terus menerus meningkat pada tingkat keonaran yang membahayakan banyak orang. ‘Proses belajar’ seorang ppemabuk dari keonaran kecil menjadi besar. Demikian selanjutnya, kalau mereka mampu mengatasi hambatan demi hambatan dengan kelicikan demi kelicikan dan kebohongan demi kebohongan, maka jadilah ia pemabuk yang disegani, preman yang ditakuti, ataupun tokoh pemabuk yang diperhitungkan. Pemabuk yang mampu meloloskan diri dari proses ‘pembelajaran diri’, menjadi pemabuk yang licik, cerdik, dan seorang pengecut yang lihai mmembaca situasi. Kemudian gelar preman sejati akhirnya mampu ia raih. Dia raih dan dapatkan dari dalam komunitas pemabuk, dalam proses yang cukup panjang.

Tak semua pemabuk lolos menjadi preman sejati, yang akan bergelut pada dunia hitam yang memang penuh dengan kekerasan dan kelicikkan. Kemudian yang lain hanyalah akan menjadi seorang pengecut sejati, yang biasanya tak berani berbuat onar di luar lingkungannya. Lingkungan yang tak dikenalnya, kecuali ada banyak yang menemaninya. Itupun kalau dalam keadaan dirinya terancam, ia akan berusaha menghindar sebisa mungkin, dengan berbagai alasan dan kelicikannya, sehingga orang lain (kebanyakan) tidak akan mengetahui sifat sebenarnya pada dirinya itu.

Perlu juga anda ketahui, bawasannya seorang preman sejati tak lebih dan tak kurang hanyalah seorang pengecut juga. Namun dengan kelihaian membaca situasi dan keadaan, serta kemampuan menempatkan diri untuk mengetahui kapan saatnya bertindak dan kapan saatnya untuk menghindar. Inilah kecerdikan dan kelicikan seorang preman sejati yang mampu menempatkan diri untuk lolos dari hal-hal yang dapat mencelakai dirinya sendiri. Yang jelas seseorang atau siapapun juga yang selalu menggunakan media untuk dapat melakukan aksi, maka dapat dipastikan ia adalah seorang pengecut. Pengecut yang mempunyai kecerdikan, kelicikan, dan kelihaian membaca situasi, membuat ia selalu dapat meloloskan diri dari kemungkinan-kemungkinan bahaya yang mengancamnya. Dengan berbagai cara, alasan, dan taktik usangnya, telah dijadikan senjata untuk menyelamatkan dirinya. Preman sejati yang dilahirkan dari keberuntungan stuasi, dan preman sejati yang terlahir dari lingkungan yang dipenuhi komunitas para pengecut.

Lalu, lihat apa yang didapat dari para pengecut dan mantan pengecut itu. Mereka sama sekali tak mendapat apa-apa kecuali kemiskinan materi, kemiskinan hati, nurani, budi pekerti, kemiskinan rejeki dan segala bentuk ‘kemiskinan’ saja yang mereka dapatkan. Mereka umumnya hidup memprihatinkan, hidup tidak tenang, resah, seakan-akan selalu dibayangi oleh dendam-dendam yang mengancam akibat perbuatannya. Sebenarnya sering muncul dalam hati kecilnya untuk selalu ingin meninggalkan dunia para pengecut itu. Sebuah dunia yang ia sadari penuh dengan kelicikan, kekerasan, kemubaziran, kemunafikan, dan kebodohan. Dan ia sesaat telah berusaha untuk meninggalkannya, namun sayang lingkungan pengecut telah demikian kuat mencengkeramnya, dan kebanyakan dari mereka tak mampu melakukannya. Dia akhirnya kembali dengan kepedihan hati yang dalam ke dunia yang pelan-pelan merusak dirinya sendiri, dan justru membawanya kepada kenistaan diri, tak punya harga diri, masa depan yang kelam dan akhirnya hanyalah kesulitan-kesulitan hidup yang akan dihadapi. Mereka tak jarang masih bisa tertawa-tawa dan bangga, namun sayang tanpa arti dan makna. Sungguh tragis nasib mereka !

2. PEMABUK & BUDAYA KEMUNAFIKAN

Lika-liku dunia minuman keras ternyata tidak hanya berdampak pada keboborokan budi pekerti di tingkat lokal saja, namun sudah berdampak pada kebobrokan budi pekerti bangsa ini. Inilah sebenarnya yang menjadi pokok persoalaan bangsa yang telah melahirkan kasus-kasus besar di negeri ini.Hal inilah yang luput dari perhatian pemerintah kita, yang justru berkonsentrasi pada masalah-masalah besar, seperti kasus-kasus korupsi, terorisme, dan kerusuhan. Kalau dikaji lebih dalam, sebenarnya kasus-kasus tersebut hanyalah wujud pada “permukaan” suatu masalah (kasus) yang muncul dari “permasalahan yang paling mendasar” yaitu “kekeringan moral” yang telah merasuki masyarakat bangsa ini. Sumber masalah yang telah terlupakan oleh pemerintah kita.

Oleh karena itu, penyelasaian-penyelesaian masalah yang hanya terfokus pada maslah-masalah besar hanyalah akan menjadikan tampak tuntas pada permukaannya saja, namun akan terus menerus muncul silih berganti, di lain tempat dan waktu, bagai ujung yang tak berkesudahan. Yang lebih fatal lagi, kalau semangat pemberantasan kasus-kasus besar, pada permukaannya itu, mulai melemah. Entah mungkin karena kondisi politik yang tidak kondusif, atau lemahnya budaya untuk itu, atau keadaan ekonomi yang butuh diutamakan, ataupun segala masalah yang muncul menjadi penghambatnya. Dapat dipastikan keadaan akan kembali seperti semula, muncul kasus-kasus baru yang sejenis justru akan menjadi-jadi bagai terlapas dari tali, keadaan bisa jadi malah bertambah parah. Itulah hasil dari penyelesaian masalah yang hanya terfokus pada permukaan masalah saja, tanpa dibarengi dengan membongkar dan membangun kembali sumber-sumber masalah maslah dengan serius dan seksama.

Kekeringan moral yang telah mewabah pada bangsa kita ini disebabkan dua faktor yang sangat mempengaruhi yaitu adanya “budaya kemunafikan” yang telah terwariskan oleh masyarakat kita ( untuk lebih detilnya lihat Topik : “Masyarakat Kita Suka Mengamuk” ). Yang kedua, kekeringan moral akibat ketidaksiapan kita mengantisipasi efek-efek “budaya global” yang terus menghujam kita tanpa “kendali”. Yaitu “kendali budaya” atas jawaban menggelontornya budaya global yang telah terserap akibat kemajuan tekhnologi dan infomasi. Sebuah jawaban yang merupakan bentuk pemahaman kita akan budaya yang tidak pantas ditumbuhkembangkan pada bangsa ini. Pemahaman kepada masyarakat luas bawasannya dibalik kemajuan tehnologi dan informasi, ada budaya yang dapat merusak diri kita sendiri, yang pada akhirnya akan sangat merugikan masyarakat kita sendiri.

Kemudian masalah mendasar apakah yang telah terjadi pada masyarakat kita ini; pertama, adalah : Telah terjadi banyak ketidaknyaman-ketidaknyamanan dalam kehidupan masyarakat. yang telah menimbulkan dampak tersendiri dalam masyarakat tersebut.Dampak dari ketidaknyamanan-ketidaknyamanan dalam masyarakat telah melahirkan budaya kekerasan, sikap pengecut, budaya keserakahan, korupsi, pungli-pungli, kerusuhan, terorisme, gaya hidup tak seimbang, pembohong, pemerasan, jiwa pencuri, perampokan, pembunuhan dan hampir semua masalah yang telah terjangkiti oleh masyarakat Indonesia, merupakan kekeringan hidup yang bermula dari keadaan tidak nyaman dalam kehidupan mereka.

Ketidaknyaman paling besar pengaruhnya yang telah memberi andil terbangunnya kekeringan hidup dalam masyarakat kita adlah “minuman keras”. Minuman keras inilah yang merupakan faktor utama terbangunnya ketidaknyamanan dan kekeringan hidup dalam masyarakat. Hal ini sangat masuk akal ketika tempat tinggal, tempat istirahat, rumah, tetangga, dan limgkungan kita terusik oleh perbuatan-perbuatan seorang atau lebih pemabuk, yang pada kenyataan dalam masyarakat kita menjadi alat pembenar untuk berbuat keonaran, pemeresan, pemalakan, kekerasan, meneror kecil-kecilan, mencuri, sampai pembunuhan. Mereka (pemabuk) beralasan bahwa melakukan hal tersebut karena ketidaksadaran setelah minum minuman keras. Namun kenyataan yang terjadi adalah telah adanya niat dari mereka untuk berbuat seenaknya. Minuman keras hanya sebagai pelancar aksinya. Untuk mampu melakukan sesuatu yang tak mungkin dilakukan jika tidak minum-minuman keras. Keadaan inilah yang telah memunculkan jiwa-jiwa pengecut, munafik, jiwa yang penuh kelicikan dan tidak berjiwa kesatria. Anehnya ssikap-sikap seperti inilah tidak mendapat penolakan yang seharusnya dalam masyarakat kita. Malah yang terjadi adalah adanya “pemahaman pembenar” sebagai “alat pemaklum kejadian”. Yang akhirnya justru mereka ikut-ikutan berkubang dalam dunia itu, menyatu dan mencari mangsa orang lain atau masyarakat lain. Inilah pemicu kerusuhan, tawuran, dan menumbuh suburkan kader-kader militan yang pada akhirnya sangat mudah terekrut menjadi teroris sungguhan.

3. Masyarakat Kita Suka Mengamuk ?

Masyarakat kita tampaknya sudah melekat dengan ‘kekerasan’. Inilah yang menjadi kegundahan hati banyak orang. Semua persoalan sering berakhir dengan kekerasan. Masyarakat yg mudah mengamuk, merusak dan membakar apa saja yang ada. Hanya karena tidak setuju, tanpa mengetahui siapa provokatornya & tanpa komando mereka mulai merusak apa saja, mulai dari papan nama, kaca-kaca, serta barang-barang yang ada disekitarnya. Masa menyemut menjadi banyak, bak dibakar api amarah yang sudah tak terkendali, mereka mulai merusak dan membakar barang-barang yang tidak kecil nilainya. Komputer, sepeda motor, mobil, sampai bangunannya mereka rusak dan bakar. Amarah yang muncul dari kepenatan hidup yang menghipit mereka. Luapan amarah yang sebenarnya sama sekali tak berhubungan dengan masalah tersebut. Mereka seperti menemukan tempat yang tepat untuk ‘mengaktualisasikan diri’ dari kekeringan hidup. Kemudian dengan mudah disulut api. Bangsa kita benar-benar telah menjadi bangsa yang keras.

Ada yang menarik atas kejadian tersebut, yaitu munculnya budaya tak tahu malu, tidak kesatria, pengecut, serta tak tahu diri. Kemunafikan hidup telah menyelimuti kehidupan budaya masyarakat kita. Sebuah kemunafikan yang telah memunculkan ‘keberanian semu’. Sebuah keberanian yang muncul karena ia ada diantara mereka, bukan karena ia sendirian. Sendirian atas segala resiko yang akan dipertanggungjawabkan kemudian. Sehingga ia lebih suka menjadi penyulut api kemudian lari untuk bersembunyi. Contoh nyata dari sebuah kemunafikan diri. Kemunafikan yang melahirkan jiwa sang pengecut. Bagai mata uang yang tak terpisahkan, munafik di satu sisi, pengecut di sisi yang lainnya.

Namun bagaimanapun juga, kita kurang bijak rasanya, jika kita menyalahkan masyarakat kita yang lugu itu. Mereka terbentuk tak jauh dari para pemimpin, yang memimpinnya. Pemimpin yang bertanggung jawab atas tumbuh kembangnya budaya masyarakat, kemana mereka akan dibawanya. Sudah sekian lama masyarakat kita diajarkan oleh budaya kemunafikan, yang didalamnya menumbuh suburkan budaya tak tahu malu dan tidak kesatria. Budaya inilah yang menyebabkan ketidaknyamanan sebagian besar masyarakat kita. Kemudian mereka menjadi tak perdaya, lemah, dan merasa dipojokkan. Untuk melepaskan diri dari ketidakberdayaan dan kelemahan mereka, tidak ada jalan lain kecuali mengikuti arus para pemimpinya. Sehingga semakin kuatlah budaya kemunafikan itu. Sudah sekian lama budaya itu berjalan dan melaju, hingga tanpa terasa telah menyatu.

Namun angin telah berubah, yang mulai melemahkan angin yang lalu. Tetapi sayang bangunan budaya itu masih berdiri kokoh, meskipun lambat laun keropos juga, sedikit demi sedikit. Tapi tampaknya itu butuh waktu yang cukup lama, untuk merobohkannya menjadi puing-puing yang berserakan. Puing-puing tersebut tetap akan ada tidak bisa dibersihkan sama sekali, ini sesuai dengan tinjauan ilmu social, Jadi kekerasan akan tetap ada walaupun dalam sekala yang lebih kecil. Ingat !, kemunafikan tetap akan selalu ada, selama yang namanya manusia masih tetap ada. Selaras dengan dinamika masyarakat yang dicoba dibangun oleh para pemimpin kita. Jadi kita harus puas dengan nilai ‘secara umum’ (generalisasi) bahwa masyarakat kita, tentu saja termasuk para pemimpin kita yang menjadi bagiannya, di masa yang akan datang (secara umum) mempunyai ‘budaya yang kesatria’. Inilah yang kami lihat sedang diperjuangkan oleh sebagian para pemimpin kita, khususnya para penguasa.

Untuk saat ini, tampaknya harapan itu masih jauh dan sedang diperjuangkan. Masih akan ada letupan-letupan kekerasan, tawuran dan amuk massa. Bangsa kita masih sebagai bangsa yang keras dan penuh dengan kemunafikan. Sebab harus diketahui bahwa merubah kebiasan yang terjadi pada sebuah masyarakat tidak semudah membalikkan tangan kita. Akan membutuh waktu yang cukup lama dan juga membutuhkan tenaga, dan pikiran yang cukup banyak dan pelik. Walau begitu marilah kita bersyukur dan mendukung apa yang sedang diusahakan para pemimpin kita, yang sampai saat ini sudah ada semangat untuk merubah dan memberangus budaya kemunafikan itu. Marilah kita doakan agar semangat itu (para pemimpin kita) tidak luntur/kalah oleh budaya kemunafikan yang penuh dengan sikap pengecut, tak tahu malu, tidak kesatria dan tak tahu diri. Yang didalamnya akan melahirkan jiwa-jiwa yang penuh kekerasan dan keserakahan. Dan yang lebih memprihatinkan kita semua, ternyata budaya itulah yang juga menumbuhsuburkan jiwa-jiwa yang ‘korup’, yang dilahirkan dari jiwa yang penuh keserakahan.

Sumber : Kedaulatan Rakyat.

DENGAN INI…. POLRI utk tidak RAGU-RAGU lagi MEMBRANGUS SGL BENTUK PREMANISME….. !

Masidan.

Kenapa **ULFA** Tak mau di Cerai… ???

Kenapa **ULFA** Tak mau di Cerai… ???

Menikah kemudian melakukan Hub. Sex adl halal Hukumnya. Bahkan, bisa menjadi wajib utk dilakukan.

Semua sudah tahu…, Sex sendiri adl Hakekat dr sebuah pernikahan, Cinta, & Keturunan itu sendiri. Tidak hanya laki-2 tidak juga perempuan. Sex adl fitrah yg tak terbantahkan ( pd akhirnya sbg kebutuhan penting ).

Nah….,
Sex bg wanita yg sudah melakukan persetubuhan, maka akan menjadi sebuah kebutuhan yg cukup vital ( primer / mendasar ) dalam kehidupan selanjutnya. Terlepas sudah menikah atau belum, di sanalah rasa kasih & sayang yg sejati bisa dirasakannya. Di sanalah juga, ungkapan Cinta & perlindungan seakan bisa ditumpahkan.

Dan dalam kelanjutannya menjadi tak mudah tergantikan ( hingga menjadi sangat tergantung kpd suami ato pasangannya ).
Di sinilah muncul ” ketergantungan ” sehidup semati bg seorang wanita ( istri / pasangan ).

Menjadi sehidup-semati, jika wanita sudah mengungkapkan cintanya ( melakukan hub. sex ) dgn pasangannya. Hingga takkan mudah utk melupakannya. Bahkan akan menjadi sebuah ketergantungan yg amat dalam bagi seorang istri ( wanita / pasangan ).

Apalagi utk yg pertama kalinya, atau di masa bulan madunya, atau di awal pernikahannya. Di jamin…. seorang wanita… yg sudah akil balik ( sdh mentruasi ) bakal NEMPEL kayak PERANGKO…. !

Utk itu…. Memisahkannya, ato menceraikannya…, ato diputus hubungannya oleh banyak sebab, BUKANLAH HAL YG MUDAH utk wanita !
Wah… kalau dipaksa bisa…. Gilee… Gan… !

Nah…., ULFA…. sudah dalam posisi ini… !
Maka dijamin… akan berontak dan melawan…. !
Utk itu, mustahillah dilakukan dgn mudah utk diceraikan atau dikembalikan kpd ORTUnya. Wah… bisa-2…. Bunuh Diri… tuhc anak… !

Tampaknya akan butuh waktu dan penanganan yg intensif utk mengembalikan kondisi awalnya. Itupun juga butuh waktu yg lama. Kecuali juga harus dilakukan oleh ahlinya ( psikater atau psikolog ).

Gimana… Om Syekh… Pujiono…. ?
Bakalan semakin Rumit tuhc…. masalahnya…. !

Makanya jgn asal main dalil doang… !
Tapi pertimbangkan…. juga efek kerusakan yg bisa ditimbulkan di masyarakat luas atas pernikahan tersebut !

Selamet tambah Pucing….ya… Om Syekh Puji…. !
Hehehe… !

Spoiler for **Syekh Puji**, Hukum Islam & Perubahan Zaman… ???..:

**Syekh Puji**, Hukum Islam & Perubahan Zaman… ???


Fenomena… pernikahan Ulfa dan Syekh Pujiono… mmg cukup mengemparkan…. !

Namun ada Hikmah dan Pelajaran yg bisa diambil di balik itu semua !

Itulah keyakinan seseorang kalau tidak mempertimbangkan ” Kekinian & perubahan Zaman “…. tak ubahnya sebagaimana Ke-egoisme-an Pemahaman sebuah Agama ( dlm hal ini Islam ). Selalu saja membuat orang menjadi terperangah, marah, menuduh, bahkan sampai menghujat ! Baca yg Terkait.. Klik >>>

Kemudian, siapa yg bisa menyanggah… atau menyalahkan… jika Hukum Islam sendiri menghalalkan atau malah mengsyahkan pernikahan tersebut. Dengan demikian, menurut pandangan Islam ( hukum Islam ) sebagai keyakinan pribadi…. mmg tidak ada masalah !

Tapi… pada kenyataannya… pandangan masyarakat, sebagian Ulama & Pemerintah melihat sbg persoalan, bahkan melanggar Hukum ( baca sbg kesepakatan bersama / UU ).

Tentu saja, UU sendiri dibuat bukan hanya untuk kepentingan banyak orang, akan tetapi juga utk melindungi kebaikan masyarakat itu sendiri.

Mungkin bisa jadi, seandainya Syekh Pujiono… menikah di jaman penjajahan Belanda ( di mana media informasi masih minim ). Tentu saja tidak akan menjadi persoalan atau masalah nasional.

Namun…. dunia pun akan terus berkembang…. ! Dan tatanan masyarakatnya juga mjd semakin pelik & rumit. Maka… Hukum Islam… juga harus mampu menyikapi & mempertimbangkan perubahan itu.

Mungkin…, Syekh Puji… melupakan itu semua. Sehingga harus menerima kenyataan yg tidak ringan dan mudah !

Utk itu…, mudah-2an Syekh Puji mampu melalui ujian yg dibuat olehnya sendiri…. !
Aminn…..

NB: Tidak melayani tanggapan yg mengarah ke sara… !

Masidan.